Skip to content Skip to navigation

Penting Mengantongi Izin Tertulis

Depok, Radaronline
Sebelumnya rencana pembangunan menara transceiver atau menara telekomunikasi yang di bangun di atas menara Masjid Al Magfiroh. Ditolak oleh ratusan warga RW004, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok Jawa Barat. Penolakan tersebut dilakukan karena masyarakat khawatir efek samping dari keberadaan menara tersebut, kata Sekretaris RT 007/RW 004, Harsono.
Harsono khawatir terjadi radiasi dan penyiaran situs porno lewat BTS yang terpasang di menara masjid. Untuk itu kami meminta pembangunan menara untuk BTS ini dikaji lagi. Sejak perusahaan selular melakukan penawaran tersebut, warga mulai resah. Apalagi sosialisasi terhadap rencana tersebut sama sekali tidak maksimal. “Sekitar 70 persen warga menolak pembangunan menara,” kilahnya.

Ditempat yang sama, Sekretaris RT06/RW04, Sutarto mengungkapkan, sekalipun baru sebatas wacana, namun warga di lingkungannya sudah menyatakan penolakan. ”Memang Masjid tersebut, mendapat bantuan dana dari pemasangan pemancar. Hanya saja, dirinya menyayangkan sarana tempat ibadah dialih fungsikan menjadi lahan komersil,” ungkapnya.

Sementara Sekdis Komunikasi Informatika Kota Depok, Herry Pansila, ketika dikofirmasikan di ruang kerjanya, Kamis (14/7/2011) mengatakan, Pemkot Depok mempersilakan perusahaan seluler menjadikan menara rumah ibadah sebagai tower mereka. Yang penting mengantongi izin tertulis. Keputusan tersebut sudah diatur dalam peraturan daerah tentang tower seluler.
Keputusan memperbolehkan menara rumah ibadah sebagai tower seluler sudah sesuai dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok. Sehingga tidak perlu dipertentangkan lagi. “Perda yang dibuat DPRD dan pemerintah sudah menyerap aspirasi MUI,” kata Herry.

Namun penggunaan menara rumah ibadah sebagai tower juga harus sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan zona set plane yang sudah ditetapkan dinas kominfo. “Kita berharap pembangunan menara tidak terpusat di Margonda, melainkan juga merambah ke wilayah-wilayah pinggiran Depok.

Artinya, zona set plane mengatur secara ketat radius pendirian tower. Dalam satu zona sepanjang 200 meter hanya diperbolehkan mendirikan tiga tower. “Bila ada perusahaan selulur yang ingin berada di tempat yang sama, maka tidak diperbolehkan,” terangnya.

Di tempat sama, Kepala Bidang (Kabid) Pos dan Telekomunikasi Dinas Komunikasi dan Informasi, Dadang mengatakan, pihaknya juga akan melakukan cek fisik terhadap usia tower. Tower yang berusia di atas 15 tahun akan dikenakan izin kontruksi. “Mereka harus membangun tower baru atau bisa juga membuat tower bersama. Kota Depok masih ada beberapa wilayah yang masih sepi pendirian tower yakni: Sawangan, Bojongsari, dan Tapos,” ujarnya.

Mengenai ketakutan warga akan radiasi yang ditimbulkan dari tower selulur, ia menjamin radiasi tower seluler tidak akan berpengaruh terhadap manusia. Sudah banyak uji coba dilakukan, hasilnya tidak ada satupun manusia mengalami sakit karena terkena radiasi tower seluler. Namun, ia tidak menapik kalau frekuensi tower seluler berpengaruh terhadap alat-alat elektronik seperti radio, TV, dan lain-lainnya. Akan tetapi, kata dia, pengaruhnya hanya pada saluran televisi tertentu. “Hal itu terjadi bila frekuensi saluran televisi beririsan digelombang yang sama. Kalau televisi biasanya kresek-kresek,” terang Dadang.

Dadang menambahkan, sebetulnya pembangunan tower tidak diperlukan lagi bila perusahaan seluler menggunakan tehnologi tinggi. Sekarang ini, kata dia, di Jakarta alat transceiver sudah dipasang di lampu jalan. Intinya tidak membutuhkan ketinggian lagi. Semuanya bisa di kamuflase. “Transceiver bisa di pasang di tiang listrik, tower air, pohon kelapa, dan bangunan lainnya,” ungkapnya. (Maulana Said)